June 13, 2009

Campur Sari

Posted in Uncategorized at 9:18 am by rahmanta

Disaat kegemerlapan musik musik barat semakin menjadi-jadi, disaat musik rock,hip hop, rap, jazz, pop,dll..semakin familiar di dengar di radio dan televisi, lagu lagu daerah semakin tersisihkan. Diantaranya lagu lagu daerah jawa; dandang gulo, sinom, pangkur, asmorondono, sudah terasa asing lagi di telinga kita. Hampir tak ada lagi masyarakat yang mengenalinya kecuali generasi tua yang masih sedikit tersisa.
campur sari
Campur sari adalah seni gending dengan dipadu berbagai alat musik,baik alat musik tradisional maupun modern, konvensional dan elektrik. Dari saron,kendang, bonang sampai gitar listrik dan keyboard. Kesenian ini memerlukan beberapa pemain musik, tak kurang dari hampir 10 orang untuk menghasilkan irama yang sangat merdu. Belum lagi banyaknya penyanyi atau Sinden yang siap sedia menyanyikan dengan suara khas mereka. Para pemain dan sinden harus berbusana adat jawa, lengkap dengan aksesoriesnya seperti keris, kembang melati dll.
manthousAdalah Pak ” Manthous ” yang mencoba untuk menghidupkan lagi kesenian daerah dengan menciptakan gending baru yaitu campur sari. Dia seorang Maestro di bidang ini, ketika beliau masih aktif dalam penggarapan dunia hiburan ini, beliau banyak menelurkan lagu lagu yang sangat populer dikarenakan harmonisasi notasinya. Sayangnya, dikarenakan sedang mengalami sakit sampai terkena strooke, beliau sekarang tidak bisa lagi menciptakan mahakarya seni yang pernah digagasnya sendiri ini. Walaupun demikian, alunan gending gending campur sari masih sering terdengar di setiap pojok tempat, baik di rumah makan, bis bis antar kota dan propinsi, radio radio lokal, dan di acara acara hajatan.
Saya masih ingat dengan stasiun radio swasta di Gunungkidul, yaitu GCD FM. Setiap harinya jam 11 siang selalu memutar gending gending campur sari. Bukan karena radio itu milik pak Manthous, bukan juga karena ada kerjasama diantara mereka. Tapi dikarenakan ada niat dan usaha untuk menghidupkan lagi nilai nilai sejarah dan seni yang akhir akhir ini semakin terkikis. Semoga saja program acara tersebut masih tetap dipertahankan dan berharap juga untuk stasiun radio lain mau mengikutinya.

Nguri-uri kabudayan ( Jawi )

Posted in Uncategorized at 9:11 am by rahmanta

hrf jawaMungkin kalimat diatas tidak lagi terdengar dari generasi muda sekarang.Disaat menjamurnya internet,facebook,blogger, dan situs jejaring lainnya,perlahan lahan mengikis bahkan melunturkan budaya budaya warisan nenek moyang kita.Disini saya akan menulis khususnya kebudayaan jawa yang dikit demi sedikit mulai menghilang yg kebetulan saya asli dari Jawa.
Saya masih ingat,dari sejak SD sampai SMP saya selalu mengalami kesulitan dalam menulis aksara jawa terutama huruf matinya, entah kenapa…mungkin karena dulu saya tidak suka ? atau mungkin karena jam pelajarannya terlalu sedikit ( 1 jam setiap minggunya) ? atau mungkin tidak pernah di-implementasikan di kehidupan sehari hari. Dan anehnya, pelajaran bahasa daerah hanya sampai di tingkat SMP saja, apa dikira sudah mampu menguasainya ? atau apakah sudah saatnya mempelajari bahasa internasional ?
plngkap hurufApa yang terjadi jika aksara Jawa digunakan untuk komunikasi dan alat pembelajaran kedua setelah huruf abjad, pasti semua murid murid akan lebih mudah dan mengerti dalam menulis dan menggunakannya. Coba kita tengok negara tetangga kita Singapura, Phillipine, China, India dan masih banyak lagi. Sampai sekarang mereka masih menggunakan bahasa dan huruf aslinya dalam berbagai bidang, baik di dalam pemerintahan, fasilitas umum, bahkan sudah sampai di perangkat lunak seperti komputer sudah menggunakan bahasa asli mereka.
Siapa yang disalahkan disini ? kebijakan pemerintah kah ? niat dan usaha dari masyarakat sendiri kah ? atau karena terlalu besarnya pengaruh dari dunia luar sehingga lambat laun menyingkirkan budaya asli kita ?
Kalau kita lihat kebijakan pemerintah, saya rasa mereka sudah mengupayakan untuk men-sosialisasikan bahasa daerah ini. Terbukti dengan nama nama jalan yang menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa nasional dan bahasa daerah. Tapi kalau kita cermati, tulisan bahasa daerahnya akan lebih kecil ketimbang bahasa nasionalnya. Entah kenapa, mungkin pemerintah tidak serius untuk mensosialisasikan bhs daerah ? atau mungkin takut kalau masyarakat akan tersesat jika tulisan dibuat sama besar. Hal ini patut menjadi perhatian pemerintah lagi dalam upaya mempertahankan budaya daerah masing masing.
Yang kedua kalau kita lihat niat dan usaha dari masyarakat sendiri, tidak sedikit orang tua yang mengajarkan anaknya untuk tetap menggunakan bahasa daerahnya, tapi itu belum bisa merubah paradigma baru sekarang yang notabene semuanya sudah harus go-internasional. Anak anak dari usia SD sudah dibekali Handphone, laptop, mp3,dan perangkat2 lunak lainnya, hal hal inilah yang sedikit banyak merubah pola hidup mereka. Saya tertarik dengan produsen handphone dari Eropa, mereka mau menyediakan software handphone nya dengan aplikasi berbahasa Jawa dan Sunda, meskipun sampai sekarang baru 2 bahasa daerah ini yang mereka update, merupakan sebuah terobosan baru dalam membantu mempertahankan budaya budaya asli daerah.
Bagaimana jika seandainya semua anak anak sekarang mulai menggunakan fasilitas2 yang berbau kebarat baratan, lama kelamaan budaya asli kita akan tersingkirkan dan lambat laun akan sirna ditelan zaman. Sudah saatnya kita sebagai generasi penerus bangsa untuk tetap melestarikan dan memepertahankan budaya asli kita. Tidak ada salahnya kita untuk belajar budaya barat, bahkan untuk zaman sekarang malah diharuskan. Karena kalau tidak, maka kita akan tergilas oleh kemajuan yang semakin hari semakin pesat. Tapi itu semua tetap harus dilandasi oleh budaya asli kita, budaya timur yang penuh sopan santun, penuh tata krama dan budi pekerti.
Contoh diatas baru hanya dari tulisan dan bahasa saja, kita masih punya budaya2 asli lainnya yang lebih kaya. Seperti gotong royong, bersih desa, syukuran atau maulud-an dan banyak lagi. InsyaAllah di lain kesempatan saya bisa menulis lagi tentang topik budaya budaya asli lainnya.

Pegunungan Seribu menyimpan beribu kekayaan

Posted in Uncategorized at 8:12 am by rahmanta

GUNUNGSiapa mengira ternyata dibalik kegersangan bukit seribu di Gunungkidul menyimpan seribu kekayaan didalamnya. Dari berbagai banyaknya Goa Goa, sumber air bawah tanah, dan batu kapur yang bisa digunakan sebagai bahan baku semen. Pakar geologi dari Universitas terkemuka dia Yogyakarta mengemukakan bahwa bukit seribu bisa ditambang sampai 2500 tahun mendatang. Masuk akal juga, karena disana terdapat sekitar 40.000 – 50.00 bukit yang mengelilingi kabupaten yang selalu kekurangan air di musim kemarau-nya.
Belum lagi Goa goa yang sangat indah di banyak tempat, Goa Song Blendrong, Song Bentar, Song Agung, Goa Tirta, dan Goa Braholo dan masih banyak lagi. Setiap Goa menghubungkan sungai bawah tanah dari satu goa ke goa lainnya. Ambil contoh Goa Bribin, setelah di explorasi dan dikembangkan oleh pemerintah dengan bantuan modal dari luar negeri, akhirnya Goa ini bisa menghidupi berjuta warga disana, yang sebagian besar dimanfaatkan untuk pengairan pertanian.
cerme%20cave_psd
itu baru Airnya, belum lagi keindahan Goa nya. Di wilayah selatan Gunung Kidul memang banyak dijumpai lembah-lembah, doline, uvala, sungai bawah tanah, dan goa dengan stalaktit dan stalagmitnya. Lembah-lembah umumnya berbentuk kerucut dan puncaknya membulat, lereng tegak, berbatu, dan lapisan tanahnya tipis.
Geomorfologinya merupakan proses pelarutan melalui pelapukan. Doline adalah cekungan di topografi karst yang merupakan hasil proses pelarutan dan merupakan tempat berakumulasinya material hasil lapukan. Gabungan dari beberapa doline dapat membentuk uvala. Sebagian uvala sering terisi air hujan yang kemudian menjadi telaga. Dari situlah bisa banyak tersimpan air yang sangat bersih dan terbebas dari segala polusi.

Tiwul sebagai makanan pokok kedua warga Gunungkidul

Posted in Uncategorized at 8:03 am by rahmanta

tiwulTiwul adalah makanan pokok sebagai pengganti beras yang berasal dari singkong. Disaat musim kemarau, berbondong-bondong petani menanam singkong, hal ini dikarenakan tanah mereka sulit untuk mendapatkan air disaat musim tersebut. Daripada tanah dibiarkan kosong mlompong, lebih bermanfaat ketika mereka menanaminya dengan ketela. Setelah ketela dipanen, umur sekitar 60 sampai 90 hari, kulit ketela dikupas. setelah itu dikeringkan. Jadilah gaplek yang bisa disimpan sampai berbulan bulan. Para petani tidak akan khawatir jika kemarau panjang melanda selama mereka masih meyimpan gaplek dirumahnya. dari gaplek itulah dijadikan tiwul, makanan khas gunungkidul. Memang kandungan kalori tiwul masih tidak bisa menandingi beras, namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras.Konon nasi tiwul bisa mencegah penyakit maag,perut keroncongan dan lain sbg-nya. Untuk memperkaya cita rasa, bisa ditambahkan sedikit gula atau parutan kelapa.
okay..selamat mecoba..

Gunungkidul Handayani

Posted in Uncategorized at 8:01 am by rahmanta

baron

Adalah kampung kelahiran saya, sebuah kabupaten yang termasuk dari wilayah DIY, wilayah paling luas diantara kabupaten2 lainnya tapi berpendapatan paling rendah diantara lainnya. Tapi itu dikarenakan masih banyak sumber daya alam yang belum dimanfaatkan. Dari sumber air bawah tanah yang melimpah, tanah yang sangat subut, angin laut yang bertiup kencang,batu kapur yang membentang luas, bahan aktif untuk radiasi nuklir, obyek wisata yang sangat indah, dan masih banyak lagi…

Saya masih ingat waktu jama orde baru dulu, Gunugkidul punya slogan yaitu “Gunungkidul Handayani”, kalo tidak salah artinya sbg brkt ;
  1. H – Hijau . Penghijaun harus terus dilakukan, karena penghijauan sebagai kunci dari pembangunan
  2. Aman . Suasana di gunungkidul harus senantiasa aman dan tenteram demi mewujudkan stabilitas nasional
  3. N – Normatif . Semua kegiatan aparatur pemerintah dan masyarakat senantiasa berpedoman dengan undang2 dab hukum yang berlaku demi mewujudkan masyarakat yang sadar terhadap hukum
  4. D – Dinamis . Dalam melaksanakan pembangunan, masyarakat dilandasi dengan penuh semangat jiwa dan tenaga, sehingga mudah beradaptasi dengan lingkungan dan mencapai keberhasilan
  5. Y – Yakin . Keyakinan sebagai modal dasar untuk melangkah dalam menjalankan program2 kerja, baik dalam bertindak ataupun dalam mengambil keputusan, sehingga permbangunan akan berhasil dengan baik dan lancar.
  6. A – Asah Asih Asuh . Dalam melaksanakan pembangunan, senantiasa mengembangkan sikap2 mendidik dengan penuh kasih sayang, membimbing dan memelihara supaya berkemampuan untuk menjadi mandiri.
  7. N – Nilai Tambah . Hasil dari setiap apa yang dilakukan diharapkan akan mempunyai nilai tambah yang nantinya akan menaikkan kesejahteraan masyarakat
  8. I – Indah. Keindahan Gunungkidul harus senantiasa dijaga, baik objek2 wisata, budaya, religi, dan sejarah. sehingga akan meningkatkan pendapatan daerah setempat
Slogan diatas tidak akan mempunyai arti sama sekali kalau semua lapisan masyarakat dan aparat pemerintah tidak menghayati dan mengamalkan dengan setulus hati dan dengan penuh semangat. tak hanya masyarakatnya, tapi juga aparat pemerintah yang harus turut serta berperan aktif mempelopori pembangunan.
Tapi entah kenapa banyak generasi muda lebih senang untuk mengadu nasib ke ibukota atau kota2 besar lain ketimbang meneruskan pembangunan di kampung halamannya. Mungkin karena pemerintah belum maksimal untuk menyediakan lapangan kerja baru ? atau mungkin para gen. muda itu blm terbuka ide2nya untuk membuka usaha ? atau mungkin bahkan lebih tertarik untuk mendapatkan uang yang lebih singkat dengan pergi ke ibukota. termasuk kah saya diantara mereka ?

Hello world!

Posted in Uncategorized at 6:56 am by rahmanta

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!